Tutul adalah nama seekor anak anjing. Apa saja ingin diketahuinya. Sebab ia ingin dikatakan anak anjing yang pintar. Oleh sebab itu pula kadang-kadang Tutul suka sok pintar.
Apa yang tidak diketahuinya, dikatakannya sudah diketahuinya sejak lama. Lagipula, ia suka sok berani. Padahal ia sedikit penakut.
Suatu hari tampak Tutul berlari-lari mengelilingi taman. “Guk, guk, guk!” gonggong Tutul.
“Awas, minggir! Siapa menghalangiku akan kutabrak! Ayo lari, nanti kukejar!”
“Huh, kau tidak akan bisa menangkap aku!” ejek Hitam, seekor kucing tua.
“Tidak enak lagi bermain-main di taman ini,” kata Tutul, kesal. Tetapi hei, ada benda baru! Benda itu tergeletak di tengah-tengah taman. Tutul menghampiri dan mengendus-endusnya.
“Bentuknya seperti kotak,” kata Tutul. “Pasti sebuah kotak!”
Tutul bertanya pada hitam, “Tahukah kau benda apa yang tergeletak di tengah taman itu?” Hitam melihat ke arah benda yang ditunjuk Tutul dan tersenyum.
"He, he, he, tebak saja sendiri!”
“Guk, guk, guk! Kau pasti tidak tahu juga!” kata Tutul dengan marah. “Aku yakin, kau tidak tahu!”
Tutul mendekati benda yang masih asing baginya itu. Ia berjalan mengelilingi benda itu. Tiba-tiba benda asing itu bergerak dari tempatnya. Astaga! Seluruh bulu Tutul berdiri!
“Ayo kejar benda itu, Tul!” kata Hitam sambil menggaruk-garuk pagar tembok. “Katanya kau bisa mengejar siapa saja!”
“Baik!” jawab Tutul, sengit. Tutul mengendus-endus benda itu, ketika berada di dekatnya..
Kemudian sebuah kepala yang berbentuk aneh muncul. Benda aneh itu perlahan-lahan menghampiri Tutul.
“Oh, misaiku!” keluh Tutul. “Tolong, tolooonggg!”
Tutul menjerit sekuat-kuatnya. Sampai Ani, majikannya ke luar.
“Ada apa sih, Tul?!” tanya Ani. “Aduh, sama kura-kura saja takut setengah mati!”
“Ha, ha, ha! Katanya ia pemberani. Tidak ada yang ditakutinya!” ejek Hitam.
“Aku takut? Apalagi sama seekor kura-kura? Huh!” jawab Tutul. (SH)
Apa yang tidak diketahuinya, dikatakannya sudah diketahuinya sejak lama. Lagipula, ia suka sok berani. Padahal ia sedikit penakut.
Suatu hari tampak Tutul berlari-lari mengelilingi taman. “Guk, guk, guk!” gonggong Tutul.
“Awas, minggir! Siapa menghalangiku akan kutabrak! Ayo lari, nanti kukejar!”
“Huh, kau tidak akan bisa menangkap aku!” ejek Hitam, seekor kucing tua.
Tutul tidak mau mengejar Hitam. Ia biarkan saja kucing tua itu mengejeknya. Soalnya, memang ia tidak pernah bisa menangkapnya.
“Tidak enak lagi bermain-main di taman ini,” kata Tutul, kesal. Tetapi hei, ada benda baru! Benda itu tergeletak di tengah-tengah taman. Tutul menghampiri dan mengendus-endusnya.
“Bentuknya seperti kotak,” kata Tutul. “Pasti sebuah kotak!”
Tutul bertanya pada hitam, “Tahukah kau benda apa yang tergeletak di tengah taman itu?” Hitam melihat ke arah benda yang ditunjuk Tutul dan tersenyum.
"He, he, he, tebak saja sendiri!”
“Guk, guk, guk! Kau pasti tidak tahu juga!” kata Tutul dengan marah. “Aku yakin, kau tidak tahu!”
Tutul mendekati benda yang masih asing baginya itu. Ia berjalan mengelilingi benda itu. Tiba-tiba benda asing itu bergerak dari tempatnya. Astaga! Seluruh bulu Tutul berdiri!
“Ayo kejar benda itu, Tul!” kata Hitam sambil menggaruk-garuk pagar tembok. “Katanya kau bisa mengejar siapa saja!”
“Baik!” jawab Tutul, sengit. Tutul mengendus-endus benda itu, ketika berada di dekatnya..
“Waaooouuu!” Tutul melompat mundur sambil menjerit kesakitan. Benda asing yang dikiranya sebuah kotak itu, kini mengeluarkan kaki.
Kemudian sebuah kepala yang berbentuk aneh muncul. Benda aneh itu perlahan-lahan menghampiri Tutul.
“Oh, misaiku!” keluh Tutul. “Tolong, tolooonggg!”
Tutul menjerit sekuat-kuatnya. Sampai Ani, majikannya ke luar.
“Ada apa sih, Tul?!” tanya Ani. “Aduh, sama kura-kura saja takut setengah mati!”
“Ha, ha, ha! Katanya ia pemberani. Tidak ada yang ditakutinya!” ejek Hitam.
“Aku takut? Apalagi sama seekor kura-kura? Huh!” jawab Tutul. (SH)












